Jensens alpha ratio formula untuk menilai reksadana

Jensens alpha ratio formula untuk menilai reksadana

Rasio yang kita bahas sebelumnya yaitu Sharpe dan Treynor, sebenarnya dapat mengukur perspektif portofolio. Semakin besar sudut atau slope portofolio, semakin baik kinerja portofolionya. Selain sudut, kinerja portofolio juga bisa ditentukan dengan intersep (intercept). Intersep ini diusulkan oleh Michael C. Jensen pada tahun 1968, sehingga terciptalah pengukuran dengan metode Jensen’s Alpha.

Manfaat Jensen’s Alpha

Selain menentukan produk reksadana mana yang bagus Jensen’s alpha juga membantu kita mengetahui apakah produk reksadana yang dikelola fund manager atau investor mengungguli benchmark (dalam kasus ini kami menggunakan IHSG sebagai benchmark) atau tidak.

Cara Mengaplikasiskan Jensen’s Alpha

Kami menyediakan google sheets untuk anda coba Jensen’s Alpha secara gratis, anda tinggal input data di google sheet tadi. Link untuk akses google sheets: http://bit.ly/jensenalpha

Data yang perlu anda siapkan adalah:

  1. Return reksa dana sebanyak 2 produk reksadana sebagai perbandingan. Anda bisa mencarinya melalui investing.com atau bareksa.com. Dalam case ini kita akan menggunakan data dari investing.com selama 2 tahun (agustus 2018 – agustus 2020) data Reksa Dana yang kita cari adalah Danareksa Mawar Konsumer 10 dan Danareksa Pendapatan Prima Plus
    jensen alpha formula

  2. Data benchmark, dalam kasus ini kita menggunakan data IHSG selama 2 tahun (1 Agustus 2018 – 31 Agustus 2020).
    jensens alpha ratio formula
  3. Data Rate free risk, biasanya BI Rate atau Obligasi Negara. Dalam case ini kita menggunakan data Obligasi Negara selama 2 tahun. Data didapat dari Ibpa
    jensens alpha

  4. Input return data reksadana, benchmark dan Rate free risk pada google sheet yang udah kita siapkan. Dalam case ini Reksadana A (Danareksa Mawar Konsumer 10) dan Reksadana B (Danareksa Pendapatan Prima Plus). Maka hasilnya seperti gambar dibawah
    jensens alpha ratio

 

Dalam contoh diatas nilai Jensen’s Alpha untuk kedua reksadana diatas bernilai negatif artinya  return kedua produk reksadana tersebut tidak mengungguli return benchmark yaitu IHSG. Namun biarpun nilai mereka keduanya minus, secara return reksadana B lebih tinggi ketimbang Reksadana A, sehingga menurut skor Jensen’s Alpha Reksadana B lebih baik ketimbang Reksadana A. Dalam mengeveluasi produk reksadana dengan metode Jensen’s Alpha pilihlah reksadana dengan skor Jensen’s Alpha paling tinggi dan positif.

Disclaimer on

Perlu diingat bahwa tools ini berguna untuk membantu anda menyeleksi produk reksadana mana yang terbaik dengan melakukan perhitungan matematis di masa lalu, sehingga tidak menjamin 100% benar untuk memprediksi bahwa reksadana yang dipilih akan lebih tetap unggul di masa depan. Perlu diingat tidak ada tools yang mampu memprediksi 100% kemana arah harga reksadana di masa depan.

Statistik artikel

63 views