Treynor Ratio calculator

Treynor Ratio calculator

Treynor Ratio calculator

Treynor Ratio adalah suatu ratio yang digunakan untuk mengukur kinerja portofolio atau reksadana yang memperhitungkan imbal hasil dan risiko sistematis.

Tidak jauh berbeda dengan sharpe ratio, Treynor Ratio juga merupakan perbandingan antara imbal hasil (excess return) dengan risiko dari reksadana. Treynor Ratio ditemukan oleh Jack Treynor seorang ekonom asal amerika yang telah mengembangkan metode CAPM (Capital Asset Pricing Model). Namun yang membedakan, risiko yang dibandingkan hanya dari risiko sistematis (risiko pasar) saja yang tercemin dari nilai beta sebagai ukuran untuk mementukan risiko. 

Manfaat

Treynor ratio sangat bermanfaat untuk mengukur keberhasilan manajer investasi dalam mengelola reksadananya. Berdasarkan rumus treynor ratio memberikan gambaran kepekaan return portfolio terhadap risiko yang melekat pada portfolio.

Hal ini sangat berguna untuk memberikan kesadaran kepada investor bahwa diversifikasi tidak dapat menghapus seluruh risiko akibat investasi.

Cara Mengaplikasikan Treynor Ratio

Treynor Ratio memiliki rumus perhitungan yang dapat digambarkan sebagai berikut:

treynor ratio formula.png

Di sini kita akan mengevaluasi kinerja 2 (dua) portofolio instrument investasi untuk memutuskan portofolio mana yang lebih baik dari imbal hasil masing-masing portofolio.

Kami menyediakan googlesheets untuk anda mencoba perhitungan menggunakan Treynor Ratio secara gratis, kamu tinggal input data di googlesheets yang telah tersedia disini: http://bit.ly/treynorratio

Data yang perlu kamu siapkan yaitu sebagai berikut:

  1. Tentukan reksadana yang ingin kamu lihat perbandingan portofolionya. Kemudian cari Return 2 produk reksadana sebagai perbandingan tadi. Kamu bisa mencarinya melalui investing.com, bareksa.com dan sejenisnya.
  1. Data benchmark yang digunakan dalam contoh ini kita menggunakan data IHSG selama 2 tahun (1 Agustus 2018 - 31 Agustus 2020).
    https://www.investing.com/indices/idx-composite-historical-data
  1. Data Rate Free Risk (RFR) biasanya dilihat dari BI Rate atau Obligasi Negara. Dalam contoh ini kita menggunakan data Obligasi Negara selama 2 tahun yang di dapat dari IBPA http://ibpa.co.id/DataPasarSuratUtang/HargadanYieldHarian/tabid/84/Default.aspx

  2. Input return data reksadana, benchmark dan Rate Free Risk (RFR) pada googlesheet yang udah kita siapkan. Dalam contoh ini Reksadana A Danareksa Mawar Konsumer 10 dan Reksadana B Danareksa Pendapatan Prima Plus. Maka hasilnya seperti gambar dibawah: