Kapan waktu yang tepat membeli saham

Kapan waktu yang tepat membeli saham

Kapan waktu yang tepat membeli saham

Sebagai seorang pemula dalam dunia saham (baik trading atau investasi) ada baiknya Anda membaca buku One Up on Wall Street karya Peter Lynch. Dalam buku tersebut, Lynch menyarankan belilah saham yang labanya terus naik. Jadi pertanyaan yang benar bukan kapan saya harus membeli saham, tapi mengapa saya harus membeli saham tersebut.

Contoh:

Karena laba suatu perusahaan yang naik terus, maka saya memutuskan untuk membeli saham saham tersebut

Setelah Anda memutuskan untuk membeli saham tersebut barulah Anda bertanya kapan saya harus membelinya. Untuk mengetahui saat yang tepat untuk beli suatu saham itu barulah Anda dapat menggunakan trend chart,disini dan dapat memakai analisa teknikal.

Contoh metode perhitungan analisa teknikal: Accumulation distribution line, adaptive moving average,Average True Range, Bollinger Bands, Chaikin Money Flow, Moving Average Convergence Divergence (MACD), Moving Average, On Balance Volume, Parabolic SAR, Price Channel, Relative Strenth Index, Stochastic.

Inti dari analisa teknikal adalah beli saham saat harganya akan naik.

Sedangkan bila Anda memakai analisa fundamental maka prinsip yang dipakai adalah belilah saham saat harganya murah.

Untuk mengetahui mahal atau murahnya suatu saham ada banyak metode yang dapat dipakai antara lain:

  1. Menggunakan metode DDM
    Dividen discount model (DDM) adalah suatu metode analisa fundamental untuk menilai harga saham dengan menganalisa nilai intrinsik saham dengan cara mendiskontokan semua aliran dividen yang akan diterima di masa mendatang. Jika nilai yang diperoleh dari DDM lebih tinggi dari harga perdagangan saham saat ini, maka saham tersebut undervalued (bagus).

    Harga saham = dividen / (discount rate - dividen growth rate)
  1. Selain itu Anda juga dapat mengikuti metode Piotroski Score.
  2. Atau Anda bisa pake metodenya Benjamin Graham.
    V = EPS x (8.5 + 2G)
    Direvisi dengan
    V = EPS x (8.5 + 2G) x (4.4/AAA)

    G adalah tingkat pertumbuhan laba jangka panjang (7 sampai 10 tahun), sedangkan 8.5 adalah PE rasio untuk perusahaan yang labanya 0%.

Saat Graham me-release formulanya (1962) risk free interest rate adalah 4.4% karenanya untuk menyesuaikan dengan keadaan sekarang maka kita bagi dengan obligasi rate AAA.

 

Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful.” – Warren Buffet.

 

Yang dimaksud Be fearful when others are greedy and greedy when others are fearful disini kalau menurut asumsi penulis, bukan berarti membeli saat orang orang ramai menjual dan jual saat orang lain membeli, memang secara harfiah artinya demikian tapi tidak sesederhana itu. Kalau bisa mengartikannya demikian, ketika IHSG (pasar Indonesia) turun tajam saat itulah kita harus mulai agresif mengoleksi saham, tentunya dengan melakukan analisa terlebih dahulu karena biasanya pada momen tersebut banyak saham-saham bagus yang harganya murah.

Tapi tentunya kita harus lihat dulu penyebab turunnya pasar ini. Apakah karena krisis ekonomi atau kerusuhan. Kalau krisis ekonomi boleh kita ikuti petuah Buffet ini, tapi kalau penyebab turunnya indeks saham ini karena kerusuhan, contohnya kalau negara akan digempur oleh sekutu, tentu sebaiknya kita menahan diri dan menyelamatkan terlebih dahulu aset kita. Intinya lihat dulu faktor-faktor penyebab turunnya indeks tersebut, baik faktor internal (mikro dan makro) maupun eksternal.

Demikian pula ketika indeks naik tajam, sebagai investor kita harus khawatir, tapi bukan berarti kita harus langsung jual, namun terlebih dahulu kita lihat penyebab naiknya indeks tersebut. Contoh tahun 2008, IHSG naik karena terdorong oleh naiknya sektor tambang dan minyak bumi, tapi kemudian turun tajam diakibatkan imbas krisis keuangan dunia dan juga kasus gagal bayarnya grup bakrie. Bukankah akan bagus ketika IHSG berada dipuncak Anda take profit lalu saat IHSG turun kita beli lagi. Disaat seperti itulah kejelian seorang investor diuji.

Jadi menurut penulis petuah Buffet ini tidak berbicara tentang turun naiknya sebuah saham, tapi bicara saham di pasar modal secara keseluruhan. Karena sangat tidak lucu bila fundamental perekonomian negara bagus, suasana kondusif, IHSG naik tapi ada sebuah saham yang harganya turun. Justru kita harus curiga ada apa dengan saham ini, bisa saja memang ada masalah dengan saham tersebut. Siapa tahu direksinya bermasalah atau sektornya sudah jenuh. Tapi bila setelah kita melakukan riset lalu kita yakin bahwa turunnya saham tersebut hanyalah karena faktor-faktor non fundamental dan saham tersebut masih layak dikeleksi, boleh dicoba saja. Tapi ada yang perlu diingat juga, hanya ada beberapa orang yang sukses dengan metode ini, seperti Peter Lynch dan Warren Buffet serta untuk Indonesia Lo Kheng Hong.

Pasar modal memang indah, tapi keindahan itu hanya akan terwujud bila Anda bijaksana dalam memainkannya.

Statistik artikel

384 views